Kretek adalah warisan budaya khas Indonesia yang memadukan tembakau dan cengkih, menghasilkan aroma dan rasa yang unik serta suara khas “kretek-kretek” saat dibakar.
Rokok ini pertama kali ditemukan oleh Haji Jamhari di Kudus pada akhir abad ke-19 sebagai upaya mengatasi sesak napasnya. Beliau mencampur cengkih dengan tembakau dan melintingnya menggunakan kulit jagung, menciptakan rokok yang kemudian dikenal sebagai “kretek” .
Saat ini, terdapat dua jenis utama rokok kretek:
Meliputi rokok tradisional yang dilinting dengan kulit jagung, cerutu, dan tingwe (singkatan dari "ngelinting déwé" dalam bahasa Jawa, yang berarti melinting sendiri).
Menggunakan filter berbahan gabus atau busa di ujung rokok untuk menyaring nikotin dan tar dari pembakaran tembakau dan cengkih.
Sigaret Kretek Mesin (SKM) merupakan inovasi dalam industri rokok Indonesia yang memadukan tradisi kretek dengan teknologi modern.
SKM diproduksi menggunakan mesin berkecepatan tinggi yang mampu menghasilkan hingga 6.000–8.000 batang rokok per menit. Proses ini mencakup pencampuran tembakau dan cengkih, pemasangan filter, serta pengemasan otomatis, menghasilkan rokok dengan ukuran konsisten dan efisiensi produksi tinggi.
SKM terbagi menjadi dua kategori utama
Dikenal dengan cita rasa khas yang kuat, SKM FF menggunakan campuran tembakau dan cengkih berkualitas tinggi serta tambahan aroma khas.
Dirancang untuk perokok yang menginginkan rasa lebih ringan, SKM LM memiliki kadar tar dan nikotin lebih rendah serta jarang menggunakan aroma tambahan.
Jl. Dusun Talon, Desa Tanagura Timur, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur